Beranda > Artikel > Jatuhkan Cinta Kita Kepada Pemimpin Saleh Bukan Pemimpin Salah

Jatuhkan Cinta Kita Kepada Pemimpin Saleh Bukan Pemimpin Salah

5 Mei 2010

Kurang dari 2 bulan lagi masyarakat Sumatera Barat bakalan baralek gadang mengusung semangat badunsanak menciptakan iklim demokrasi pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur. Alek demokrasi tersebut telah terlihat geliat penyambutannya dengan berbagai acara “Hiburan Rakyat”, baik jalan santai, pelantikan dan lain sebagainya dengan hadiah yang menggiurkan. Ada juga yang menggelar acara “Hiburan Umat” dengan tabligh akbar untuk mempersatukan kekuatan umat. Terlepas dari berbagai acara yang digelar, masyarakat Sumatera Barat sudah “siap” untuk melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan penuh santun dan menjunjung nilai sportivitas, siap kalah berjiwa besar, siap menang tidaklah sombong dan angkuh.

Namun yang tidak boleh terlupakan, pemilihan Gubernur Sumatera Barat yang akan datang memberikan 1 sinyal positif kepada kita untuk ditanamkan dalam setiap sanubari “bahwa Pilkada ataupun Pilgub Sumbar bukan sekedar memilih kepala daerah atau gubernur yang akan memimpin masyarakat Sumatera Barat 5 tahun ke depan, namun lebih dari itu memilih pemimpin yang dapat menyelamatkan akidah dan moralitas umat. Dengan demikian, kita dituntut untuk memilih pemimpin yang saleh yang tidak mengumbar “janji-janji surga” (meminjam istilah Ahmad Badawi), namun juga mengaktualisasikan berbagai janji untuk mensejahterakan umat. Kemudian menghilangkan dalam pikiran dan ingatan kita untuk memilih, pemimpin yang salah dengan prinsip “Bersahabat dengan kemunafikan dan bercinta dengan kemunkaran”, apalagi belakangan ini Sumatera Barat tak henti-hentinya di hantam bencana, diperlukan tokoh yang cerdas dan intelektual untuk melakukan perubahan, bukan mendatangkan kemudharatan setelah duduk nantinya.

Pemimpin yang saleh
Pemimpin yang saleh adalah pemimpin yang mengaktualisasikan pesan-pesan Allah dan Rasulnya, dalam melaksanakan berbagai kebijakan maupun agendanya untuk mensejahterakan umat. Juga bisa diinterpretasikan dengan pemimpin yang profetik. Pemimpin yang profetik adalah pemimpin yang pada dirinya terdapat nilai-nilai kenabian (profetis). Adapun ciri-ciri pemimpin yang profetik, yaitu:

1. Kepribadian Integralistik
Seorang pemimpin harus memiliki kepribadian integralistik, yang terpadu dalam dirinya tiga unsur kenabian, yaitu keikhlasan, kejujuran, dan keterbukaan. Pemimpin yang berjiwa integral akan selalu dirindukan dan didambakan oleh rakyat dan umat. Pemimpin integralistik selalu mensosialisasikan dalam lingkungan sosialnya firman Allah “Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alalmin” (sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku hanya untuk Allah tuhan semesta alam). Sehingga setiap tindakannya didarmabaktikan untuk kesejahteraan rakyat. Kalau diibaratkan dengan sumpah pemuda, ia juga memiliki “sumpah pimpinan” diantaranya; berupaya agar rakyat tidak bodoh, rakyat tidak malas, rakyat tidak miskin dan wanita menjadi mulia dimata manusia. Hal seperti ini yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad saw. diantaranya nabi Muhammad saw telah bersabda “Kemiskinan akan mendekatkan seseorang kepada kekufuran”.

2. Amanah
Kata amanah mempunyai akar kata yang sama dengan iman, yaitu a-m-n yang berarti “damai dengan dirinya sendiri” atau merasakan siapa golongan dalam diri seseorang. Menurut tinjauan etimologi bahwa amanah artinya sebuah “tempat menyimpan uang aman” (safe deposit) sebagaimana yang terkandung dalam surat An-Nisa (4) : 58. kata amanah juga berarti kesetiaan, kepercayaan, ketulusan atau kejujuran.untuk menundukkan eksitemsi seorang pemimpin dalam mengayomi pengikutnya, terlebih dahulu dijelaskan kata-kata yang semakna dengan amanah, seperti kata Al-Taklif (beban), AL-Ahd (janji) dan Al-Mas’uliyah (tanggung jawab).

Pertama, at-Taklif, At-Taklif mempunyai arti beban berat. Menurut Ibnu Mansur dalam Lisanul Arab-Nya, bahwa Taklif bermakna menyuruh untuk melakukan sesuatu yang sulit atau sukar. Adapun untuk para ulama, taklif adalah informasi yang disampaikan kepada orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat atau menghindarkan sesuatu yang berbahaya serta adanya kesukaran yang dihadapi dengan ketentuan tidak sampai dalam bentuk paksaan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Ia mendapat pahala dari kebaikan yang dilakukannya dan mendapatsiksa dari keburukkan yang diperbuatnya. Ibnu Abbas memberikan interpretasi ayat diatas, bahwa Allah swt telah memberikan kelapangan kepada orang mukmin untuk melaksanakan urusan-urursan agamanya.

Kedua, ‘Ahd (janji). Kata ‘ahd mengandung arti menjaga dan memelihara sesuatu secara bertahap atau memisahkan sesuatu untuk dijaga. Kata ini disebut dalam alquran sebanyak 45 kali. Dua diantaranya dirangkaikan dengan kata amanah, sebagaimana terdapat dalam surat Al-Mu’minun ayat 4 dan Al-Ma’arij ayat 32. Menurut Imam Tabari, pengertian ‘ahd pada dua ayat di atas sebagai akad (transaksi) yang dilakukan dalam kehidupan sosial (mu’amalah). Sedangkan kata amanah mengandung arti kepercayaan-kepercayaan yang diberikan kepada orang lain.

Ketiga, mas’uliyah (pertanggung jawaban). Menurut Al-Raghib Al-Isfahani bahwa kata mas’uliyah berasal dari kata sa’ala, berarti meminta jawaban terhadap sesuatu, adapun mas’uliyah bermakna pertanggungjawaban.

Berdasarkan kata taklif, ahad dan mas’uliyah tersebut seorang pemimpin memiliki kebebasan untuk melakukan berbagai kebijakannya serta mempertanggungjawabkan dihadapan Allah swt. Pemimpin yang amanah selalu merasa tidak tenang dengan jabatan yang disandangnya. Perjalanan kebijakannya ditujukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Rasulullah telah memberikan contoh dalam pelaksanaan amanah dimana Rasulullah rela tidur bertikarkan pelepah kurma. Melihat hal itu, Umar menangis, namun Rasulullah memberikan tausiah kepada Umar. “Wahai Umar, raja Romawi dan Persia hanya merasakan kebahagiaan di dunia, sedangkan kita akan merasakan kebahagiaan keduanya”. Sikap amanah beliau juga diikuti oleh Umar bin Khattab dengan riwayat yang menarik sekali untuk direnungkan.

Ketika Umar mengadakan inspeksi mendadak (sidak) menelusuri perkampungan, Umar beristirahat sejenak disebuah rumah penduduk. Umar mendengarkan suara anak yang meminta nasi untuk makan malam. Namun ibunya selalu menjawab, supaya anaknya menunggu sampai nasinya masak. Mendengar hal tersebut, Umar lalu mengetuk pintu, kemudian masuk dengan menggunakan pakaian orang awam. Ketika Umar mengangkat tutup periuk, terlihat oleh Umar beberapa buah batu yang dimasak.menyadari hal tersebut merupakan kelalaiannya, Umar keluar menuju tempat penyimpanan gandum, kemudian mengangkat gandum dan memberikan kepada ibu tersebut.
Pemimpin yang salah

Adapun pemimpin yang salah adalah pemimpin yang telah mempergunakan kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya untuk kesejahteraan rakyat. Di antara sifat pemimpin yang salah itu:

1. Munafik, suatu sifat yang telah diterangkan Allah dalam firmannya, surat Al-Baqarah ayat 14. berdasarkan ayat tersebut, pemimpin yang munafik semangat mengumbar janji-janji surga di panggung kampanye, namun tidak pernah terealisasi dalam perjalanan kepemimpinannya.

2. Zhalim, seorang pemimpin yang zhalim selalu bertindak untuk kepentingan dirinya. Membiarkan rakyat dalam kelaparan, kebodohan, suram masa depan, bahkan memanfaatkan wanita untuk kepentingan dirinya. pemimpin yang zhalim merupakan salah satu enam macam manusia yang akan menjadi penghuni neraka.

Kesalehan pemimpin selalu menjadi dambaan umat. Kesalehan yang dimaksud adalah kesalehan yang permanen bukan kesalehan yang temporal atau kesalehan yang dibuat-buat. Akhir-akhir ini banyak tampil calon-calon pemimpin yang “mensaleh-saleh” kan diri dalam rangka untuk mendapatkan kekuatan. Padahal daftar kesalehannya tak dapat ditutup-tutupi, dan umat tak dapat dibohongi. Namun demikian, umat tidak boleh terlalu pesimis terhadap kesalehan pemimpin masa lalu, mari kita optimis dalam menatap kesalehan pemimpin masa depan. Wallahua’lam

Kategori:Artikel
%d blogger menyukai ini: