Keberuntungan Si Anjing Kurap

Alkisah. Pada sebuah perburuan babi akbar seekor babi yang telah bengkok taringnya sudah terluka parah oleh tombak para pemburu. Namun babi itu masih kuat berlari menghindari kejaran anjing para pemburu. Karena tak ada lagi pelosok hutan untuk bersembunyi, sang babi lari ke tepi sebuah kampung, dimana terdapat sebuah dangau peladang tua yang memelihara seekor anjing yang sudah tua pula.

Karena sudah tua dan tubuhnya dipenuhi kurap pula, anjing itu tersisih dari komunitasnya. Dari itu si anjing kurap itu hanya tidur-tiduran saja dekat tungku untuk menghangatkan badan. Namun tiba-tiba anjing itu kaget dan menyalak sebagai ekspresi takut ditandai dengan terkulainya ekor dan memasuki celah di antara kedua kaki belakangnya. Masalahnya babi luka yang diburu pemburu berlari ke arahnya seperti mau menyerang. Ciling (babi) luka-lah namanya, tentu saja terlihat menakutkan.
Namun malang bagi si babi, tepat didepan anjing kurap, tenaganya habis dan tergolek. Anjing kurap terus menyalak karena takut, bahkan untuk laripun dia tidak punya tenaga. Namun ketika dilihatnya si babi tak bergerak keberaniannya mulai timbul. Perutnya mendadak jadi lapar melihat darah yang mengucur dari sejumlah luka di tubuh si babi. Setelah yakin babi itu memang sudah tak berdaya, ajing kurap mulai menjillat darah babi.

Saat dia asyik menikmati darah babi, datanglah para pemburu ke tempat itu. Decak kagumpun menggema. Betapa tidak. Puluhan anjing berburu yang kuat dan tangkas saja tidak bisa melumpuhkan babi itu dalam perburuan. Tapi anjing kurap itu mampu merobohkannya dan dengan rakus menjilat darah babi yang sekarat itu sambil sesekali menyalaki para pemburu dengan pongah, mengisyaratkan kalau dialah yang melumpuhkan babi besar itu.

Sebenarnya bukan demikian. Tanpa disalaki anjing kurap itu, sang babi juga akan jatuh dan mati dengan sendirinya akibat luka parah di tubuhnya. Namun karena berada ditempat dan waktu yang tepat, anjing kurang mendapat keberuntungan dan nama besar sebagai anjing yang mampu melumpuhkan seekor babi besar. Sementara dari satu sudut pandang, para pemburu tangguh dan anjing hebat yang ambil bagian dalam perburuan akbar itu tak mampu melakukannya.

*** Cerita rakyat ini bisa diibaratkan kepada zaman era reformasi yang telah kebablasan dan banyak sekali orang yang mendapatkan keberuntungan sebagai anjing kurap itu. Apalagi yang pandai menjilat dan menghamba alias tukang cebok.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: