Beranda > Artikel, CIO (Chief Information Officer) > Chief Information Officer Tak Lagi Sebagai Lonceng Mati

Chief Information Officer Tak Lagi Sebagai Lonceng Mati

Eksistensi chief information officer (CIO) kini semakin penting bagi perusahaan. Mereka merupakan salah satu ujung tombak perusahaan di masa kini dan masa depan. Sejumlah tantangan harus mereka hadapi guna memenangkan persaingan bisnis.

Sebuah artikel terbitan Harvard Business Review (2000) bertajuk Are CIO’s Obsolete? menyebutkan, peran CIO awalnya hanya jabatan boneka. Bahkan, mantan CIO Charles Schwab Corporation yang kini menjadi CEO Drugstore.com Dawn Gould Lepore mengisahkan, di awal penunjukannya menjadi CIO,banyak orang yang meragukan kapasitasnya.

Bahkan,wanita kelahiran 1955 ini menyebutkan bahwa suara CIO seperti suara lonceng mati. ”Teknologi merupakan hal penting dalam sebuah perusahaan dan CIO berpengaruh besar dalam pengarahan strategi perusahaan, struktur organisasi, dan budaya kerja yang ada di perusahaan,”ungkap Lepore.

Survei terbaru IBM yang bertajuk The Essential CIO(2011) semakin memperjelas peran CIO untuk inovasi dan pertumbuhan bisnis. Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 3.000 CIO dari 71 negara dan 18 industri di seluruh dunia ini disebutkan bahwa pihak eksekutif (CEO) memberikan mandat yang jelas untuk memperkuat kedudukan CIO di seluruh dunia.

Ada beberapa prioritas utama yang ditekankan, termasuk membantu perusahaan memanfaatkan teknologi seoptimal mungkin, serta meningkatkan kemampuan meraih manfaat dari data yang terstruktur maupun tidak terstruktur. Para CIO sekarang ini juga memiliki posisi penting dalam pengambilan keputusan bisnis sebuah perusahaan.

Penelitian menunjukkan, di kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia), posisi dan peran CIO semakin vital bagi perusahaan. Dari kawasan ini ada 168 CIO yang dilibatkan dalam penelitian. Penelitian menunjukkan, peran CIO semakin penting di posisi level senior manajemen.

Sekitar 68% dari perusahaan yang diwawancarai mengatakan bahwa teknologi sangat penting bagi kesuksesan perusahaan dan 58% dari mereka mengintegrasikan bisnis dengan teknologi untuk berinovasi. Saat ini para chief executive officer (CEO) lebih menyadari berbagai manfaat bisnis yang dihasilkan teknologi informasi (TI). Tak heran jika CEO saat ini mengandalkan para CIO untuk mengubah data menjadi informasi yang bermanfaat.

Seorang CIO harus mampu mengubah informasi menjadi inteligensia, dan mengubah inteligensia menjadi keputusan bisnis yang lebih baik. “Teknologi merupakan salah satu keunggulan kompetitif bagi dunia usaha masa kini.Hal ini menjadi faktor pendorong penting peranan CIO di sebuah perusahaan,” tutur Charles Kamau Njendu, Senior Engagement Manager Global Business Services IBM Singapura.

Dalam penelitian yang dilaksanakan selama empat bulan (Oktober 2010–Januari 2011) ini juga berhasil mengidentifikasi empat “mandat” yang diterima CIO berdasarkan pandangan setiap perusahaan tentang peran TI.Keempat mandat itu adalah memanfaatkan (leverage), memperluas (expand), mentransformasikan (transform) , dan memelopori (pioneer).

Berbagai mandat ini secara jelas mengidentifikasi bidang-bidang di mana TI harus unggul untuk mendukung dan memungkinkan perusahaan. Termasuk, bagaimana menentukan kompetensi TI yang harus didapatkan dan dikembangkan. Njendu menambahkan, perusahaan- perusahaan beperforma tinggi menjadi berbeda karena mereka didukung tim di bawah CIO yang fokus menyejajarkan prioritas bisnis dengan TI.

Mereka lakukan hal ini dengan secara jelas mengartikulasikan dan mengomunikasikan misi atau mandat tim CIO dan menggunakannya sebagai mekanisme prioritas dalam investasi TI,”papar Njendu.

Sementara, Dino Bramanto, Country Manager, Global Technology Services IBM Indonesia menjelaskan, CIO masa kini tidak lagi dianggap sebagai ahli teknologi semata, tetapi juga sebagai sosok yang dapat melahirkan manfaat bisnis melalui proses dan infrastruktur teknologi informasi. Perusahaan Indonesia pun kini semakin sadar TI.

Dulu banyak perusahaan yang menganggap bahwa dengan menggelar promosi besar maka akan banyak konsumen yang didapat. Tapi, kini mereka mulai ingin mengetahui data para konsumen,”jelas Dino. Penelitian IBM CIO Study 2011 ini didukung dengan penelitian serupa yang dilaksanakan dua tahun lalu.

Kala itu dalam penelitian bertajuk The New Voice of the CIO; Insights from the Global Chief Information Officer Study, IBM sudah menyebutkan bahwa teknologi dalam menunjang ekspansi sangatlah signifikan.Sedikitnya 47%top manager dari berbagai perusahaan mengungkapkan, teknologi memegang peranan penting atau sangat penting dalam ekspansi bisnis.

Oleh karena itu, dalam setiap penyusunan rencana bisnis, seorang CIO tidak pernah absen dilibatkan dalam berbagai rapat. Salah seorang CIO di bisnis media dan hiburan menyebutkan bahwa dirinya selalu dilibatkan dalam rapat dewan direksi,bahkan dia juga harus bertatap muka dengan beberapa anggota direksi, dua atau tiga kali setiap bulan.

Seringnya para CIO menghadiri berbagai rapat dewan direksi,maupun dimintai saran secara khusus oleh para direksi menggambarkan signifikansi peran CIO dalam penyusunan rencana bisnis. Bahkan, dalam rapat tersebut, tidak jarang mereka juga diharuskan memberikan sumbangsih saran di luar masalah TI.

Sebut saja berbagai masukan terkait strategi bisnis,mengembangkan jaringan, serta bagaimana menyusun kemitraan dengan perusahaan lain. Membuka kemitraan serta membangun soliditas merupakan kemampuan lain yang harus dimiliki CIO, di luar lingkup kerjanya sebagai pakar TI.

Survei IBM 2009 itu menyebutkan setidaknya ada tiga model kerja CIO sebagai pemimpin usaha. Pertama, CIO membuat strategi bisnis sebagai bagian dari tim. Dari seluruh CIO yang melakukan hal ini, 74% mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Kedua,CIO menyajikan strategi bisnis bergabung bersama para top manajer di perusahaan tersebut.

Sebanyak 66% CIO mampu mencatatkan keberhasilan, ketika mengambil peran ini. Ketiga, CIO sebagai pemegang kebijakan tertinggi di perusahaan yang berkewajiban memutuskan strategi ekspansi.CIO yang mampu mengemban tugas ini mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi yaitu sebanyak 62%. Selain sebagai inspiring IT managers, CIO harus mampu berperan sebagai collaborative business leader.

Karena itu, mereka harus memiliki pengetahuan bisnis, di samping menguasai perkembangan dunia teknologi. Dengan kriteria ini,wajar jika kemudian CIO tidak boleh absen dalam setiap pengambilan keputusan di perusahaan artinya, saat ini peran CIO semakin menentukan arah dan kemajuan sebuah perusahaan. Sebab, CIO kini tidak lagi dipandang sebagai posisi yang hanya berkutat pada urusan teknologi semata.Tetapi, bagaimana teknologi yang dimiliki perusahaan bisa menjadi senjata ampuh untuk strategi bisnis.

Sumber :
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/434571/44/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: