Sok Tahu “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”

Belakangan ini, kita sering disuguhin dengan intrik-intrik perpolitikan di negeri kita tercinta. Sebagai orang awam, saya pribadi ikutan gerah dengan orang-orang yang berbicara lantang sok tahu, sok bener sendiri. Lagi-lagi saya gerah dengan kondisi dimana beberapa saudara kita juga terjebak pada ikut-ikutan menghakimi sesuatu yang mereka tidak ada pengetahuan tentangnya. Sungguh sangat disayangkan. Kenapa? Karena justru hal-hal itulah yang kian bikin ruwet dan semrawut suasana negeri ini.

Mewabahnya penyakit Sok Tahu Sok Bener ini sudah menjamah kesetiap titik sektoral  tidak saja berkutat pada terminal-terminal tertentu saja tapi sudah mengambang hingga rasa malu tetang ketidak tahuan menjadi semakin tebal diatas titik kepercayaan diri yang tinggi, alasannya kemungkinan dikarenakan siapa gue didepan atasan, atau jaga imej atau sebagainya.

Kutipan ini mungkin bisa menjadi cermin bagi yang ingin menceploskan sesuatu agar percilaputan tidak jadi kubangan yang semakin berlanyah.

“He who knows and knows he knows: he is wise – follow him. He who knows and knows not he knows: he is asleep – wake him. He who knows not and knows he knows not: he is simple – teach him. He who knows not and knows not he knows not: he is a fool – shun him.

1) Orang Yang Tahu dan Dia Tahu Bahwa Dia Tahu, ia orang Bijak, Maka Bertanyalah Padanya!

2) Orang Yang Tahu dan Dia Tidak Tahu Bahwa Dia Tahu, ia orang lupa, Maka Ingatkanlah Dia!

3) Orang Yg Tidak Tahu dan Dia Tahu Bahwa Dia Tidak Tahu, ia orang tidur, Maka bangunkan-Ajarilah Dia..!

4) Orang Yang Tidak Tahu dan Dia Tidak Tahu Bahwa Dia Tidak Tahu, ia orang bodoh, Maka Tinggalkanlah Dia..!

Pada tipe ke-empat inilah biangnya, dimana kita sering berkutat, Sok tahu bin Sok Pintar dan Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Apasalahnya mengakui sesuatu yang tidak tahu akui saja tidak tahu, tidak perlu merempet kesana kesini, begini begono, apalagi sampai berurat leher memaksakan kehendak, semakin tinggi tingkat alur kebohongan “ketidak tahuan” semakin tampaklah “kebodohan” yang terlihat. Semoga kita segera bisa masuk pada kategori orang yang tahu bahwa kita tahu, cukup.

 

 

  1. Belum ada komentar.
  1. 21 Februari 2015 pukul 9:20 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: